You are here
Belajar Ngasah Batu, Khawatir Habitat Monyet DAERAH HEADLINE 

Belajar Ngasah Batu, Khawatir Habitat Monyet

LUBUKLINGGAU, MS – Keberadaan sejumlah mahasiswa “bule” asal 14 negara kemarin (11/8) merupakan hari terakhir di Lubuklinggau. Banyak kesan dan pengalaman yang didapat mereka selama empat hari berada di bumi Sebiduk Semare.

Mahasiswa bule asal 14 negara tersebut mengikuti kegiatan Sriwijaya, Project tahunan yang dilakukan oleh AIESEC Unsri. Fokus kegiatan itu yakni sektor pariwisata sebagai bidang yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu daerah.

“Saya terkesan dengan di Bukit Sulap, banyak monyet,” kata Carmen, mahasiswa asal Tunisia ketika mempresentasikan kesan dan pengalamannya dihadapan Walikota Lubuklinggau, H SN Prana Putra Sohe dirumah dinas Walikota.

Carmen mengaku, teman-temannya yang lain yakni dari Hongkong, France, Slovakia,  Czech, Poland,  Egypt, Netherland, Spain, China, Turkey, Vietnam, Thailand dan Italy telah mengunjungi tempat wisata Bukit Sulap, air terjun Temam, kampung warna warni, bermain rafting dan belajar mengasah batu akik. Selama di Lubuklinggau, mereka menginap di rumah dinas Walikota. “Kecewanya masalah sampah. Dibukit sulap terkesan dengan banyak monyet, tapi makan sampah plastik. Takutnya mengganggu habitat monyet,” terangnya.

Selain itu, dirinya terkesan dengan pembangunan yang sudah dicapai Pemkot Lubuklinggau. Salah satunya fasilitas objek wisata air terjun Temam yang dikatakannya telah dilengkapi dengan lampu warna warni. Di Bukit Sulap sudah ada inclinator, sehingga turis bisa melihat pemandangan Lubuklinggau dari atas. “Semoga kedepan bisa maju lagi,” ujarnya.

Sementara itu mahasiswa perempuan asal Hongkong yakni Chloe mengatakan dirinya senang selama berada di Lubuklinggau. Termasuk dengan gaya khas Walikota Lubuklinggau yang tetap melaungkan waktu menemani para mahasiswa ditengah kesibukannya selaku kepala daerah. “Orangnya (Walikota) humble, penuh humor . Jadi kita diajak langsung dengan dia kesana (tempat wisata). Juga sama-sama main rafting di air,” jelasnya sembari mengucapkan terima kasih banyak dengan menggunakan bahasa Indonesia kepada Walikota.

Lebih lanjut, dirinya juga terkesan dengan batu akik yang diberikan Walikota sebagai cenderamata kepada para mahasiswa. Apalagi cenderamata batu akik itu dibuat sendiri oleh Walikota. “Terima kasih. Batu akiknya berwarna, saya dan teman-teman diajak melihat sekaligus diajari membuatnya,” celetuknya.

Chloe dan Carmen mengaku, keduanya kalau memiliki kesempatan ingin kembali menyambangi Lubuklinggau. “Kalau ada kesempatan, pasti mau lagi ke Lubuklinggau. Tapi masalah dana dan jauh dari rumah orang tua. Tapi kalau ada kesempatan, kenapa tidak,” beber Carmen yang diaminin Chloe.

Walikota Lubuklinggau, H SN Prana Putra Sohe menjelaskan dengan adanya komunitas dari para mahasiswa yang berkunjung ke Lubuklingggau, merupakan bagian daripada program “Ayo Ngelong ke Lubuklinggau”. “Mudahan-mudahan dari 14 negara, mereka bisa mengekpose dan mereka bisa mengekspose tentang wisata di Lubuklinggau,” bebernya.

Nanan mengakui, memang apa yang dibangun pihaknya khususnya pembenahan dibidang pariwisata dilakukan secara bertahap. Dan itupun terus dilakukan peningkatan oleh pihaknya. “Masih banyak yang kurang seperti kebersihan. Maka dari itu, kedepan tetap harus kita tingkatkan,” pungkasnya.(dhiae)

Related posts

Leave a Comment