You are here
Februari, Pasokan Bahan Makanan Linggau Mengalami Inflasi HEADLINE POLITIK & PEMERINTAHAN 

Februari, Pasokan Bahan Makanan Linggau Mengalami Inflasi

LUBUKLINGGAU, MS – Sejumlah kelompok bahan makanan, seperti daging ayam ras, cabai merah, kol putih/kubis, ketimun, tomat sayur dan apel, menjadi penyebab terjadinya deflasi atau harga-harga secara umum jatuh di Kota Lubuklinggau pada bulan Februari 2017 lalu.

Hal ini terjadi, karena pasokan bahan makanan tersebut, didapati melimpah di pasaran. Namun, dari catatan pihak Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Lubuklinggau, pada bulan yang sama Kota Lubuklinggau diketahui terjadi inflasi bersama 61 daerah lain di Indonesia. Sedangkan 20 daerah lain tercatat mengalami deflasi.

“Disini terjadi inflasi juga, tetapi inflasi terbesar terjadi di Kota Manado dan terendah di Kota Ternate. Kalau tingkat deflasi, tertinggi di Kota Jambi, sedangkan terendah di Kota Bungo. Berdasarkan penghitungan inflasi Kota Palembang dan Kota Lubuklinggau, pada bulan Februari 2017 mengalami inflasi sebesar 0,11 persen,” ungkap Kepala BPS Kota Lubuklinggau, Aldianda Maisal, Sabtu (3/3/017).

Ia menyampaikan, khusus di Kota Lubuklinggau mengalami inflasi sebesar 0,30 persen yang terjadi karena indeks harga pada 4 kelompok pengeluaran, yakni perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar yang tercatat sebesar 2,37 persen.

“Lalu, kalau kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,65 persen. Kemudian, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,59 persen dan terakhir kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,07 persen,” jelasnya.

Diakui Aldianda, untuk tingkat deflasi, disebabkan oleh 3 kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga, yakni bahan makanan sebesar 1,29 persen, lalu kelompok sandang 0,89 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,17 persen.

“Komoditas yang mempengaruhi angka inflasi, diantaranya tarif listrik, jeruk, rokok kretek filter, bahan bakar rumah tangga, bawang merah, bawang putih, cabe rawit, termasuk tarif pulsa ponsel. Sementara, penyumbang inflasi terbesar adalah kenaikan harga tarif listrik yang dikarenakan adanya penyesuaian subsidi listrik pada golongan rumah tangga dengan daya 900 VA yang membayar dengan pasca bayar,” ungkapnya. (dhiae)

Related posts

Leave a Comment