oleh

Filosofi Durian Gugah Fashion Dunia

PANDEMI Covid-19 nyaris melumpuhkan sendi-sendi ekonomi dunia. Namun ditengah wabah yang menghantui penduduk bumi, Batik Durian–batik khas Kota Lubuklinggau–mampu eksis dipasar Internasional. Bukan tanpa sebab, filosofi durian-lah yang membuatnya mulai dilirik hingga pasar Eropa.
———–

“Durian itu berduri yang berarti rintangan. Namun dibalik semua itu ada sesuatu yang manis dan menggambarkan sebuah harapan untuk lepas dari pandemic. Filosofi ini membuat designer di Italia tertarik,” ujar Ketua Dekranasda Kota Lubuklinggau, Hj Yetty Oktarina Prana mengawali obrolan saat diwawancarai media ini.

Ditengah keterbatasan finansial yang dimiliki, sempat membuat ragu Ketua Dekranasda Kota Lubuklinggau ini akan ajakan sahabatnya, Jenny Yohana Kansil (JYK) untuk membawa batik durian tampil ke ajang Milan Fashion Weeks (MFW).

“Bakal ada anugerah besar dibalik pandemi. Ini yang saya dan mbak Jenny yakini. Makanya saya memberanikan diri, apalagi mbak Jenny punya target mengembangkan batik Indonesia,” tambahnya.

*Desaign Batik Lebih Kekinian

Selama ini batik terkesan digunakan sebagai pakaian formal. Padahal bila diolah dengan apik, batik bisa tampil lebih modis dan diterima oleh semua kalangan umur.

Untuk itu, JYK bersama Fernando Burgo (Desainer Italia) merancang Batik Durian dengan mode funk yang cocok digunakan untuk anak muda diberbagai kesempatan.

Dibantu lima desainer Eropa, JYK mengupayakan Batik Durian bisa tampil di Milan dan mendapat tempat prestisius, menjadi tantangan tersendiri. Batik Durian harus melewati kurasi desaign yang ketat, makanya Mbak Jenny membuat lebih dari 100 desaign Batik Durian.

Hasil karya kurotor tersebut, didapat 10 desaign Batik Durian yang bisa ditampilkan. Semua desaigner Eropa tersebut, ternyata teman-temannya Mbak Jenny. Menariknya mereka membantu cuma-cuma tanpa bayaran sepeser pun.

*Momentum Tepat, Ditakdirkan Bertemu dengan Orang yang Tepat

Pemilihan tempat dan waktu untuk mengikuti MFW di Milan pada September, lantaran Mbak Jenny rutin bertolak ke Milan setiap tahun pada bulan September.

Itu sebagai salah satu konsekuensi pemegang lisensi Burgo Indonesia, harus mengikuti meeting tahunan di Milan.

“Intinya, Batik Durian bisa menembus pasar manca negara karena takdir Tuhan, dipertemukan dengan orang-orang dan waktu yang tepat. Ada pula hikmah yang saya dapat, bahwa untuk mewujudkan keinginan agar dikenal dunia tak semata-mata bergantung dengan banyak uang,” jelas Rina—sapaan akrab Hj Yetti Oktarina Prana.

Rina menjelaskan jika keberangkatannya dan tim ke Italia menggunakan anggaran kegiatan pameran di Palembang, namun cukup untuk bisa tampil di Milan.

Apalagi dari segi pembiayaan, situasi pandemi justru menguntungkan akibat harga tiket yang lebih murah. Kemudian untuk produksi pakaian, menggunakan brand JYK.

Makanya, Mbak Jenny sangat mengedepankan kualitas sehingga meminta bantuan desaigner senior Deden Siswanto dan salah satu kurator nasional yang juga dedengkot-nya Fashion Week Indonesia, Ali Kharisma.

“Hasilnya, tampak sekali keindahaan produk Batik Durian. Peliputan mengenai Batik Durian tak hanya dilakukan jurnalis daerah dan nasional. Namun jurnalis dan media Internasional pun turut menyajikan berita tentang Batik Durian Lubuklinggau,” jelas Rina.

*Variasi Harga, Hak Paten dan Target Kedepan

Pasca diminati berbagai kalangan dari manca negara, harga Batik Durian tetap bisa diminati segala kalangan. Harga Batik Durian bervariasi, mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta untuk bahan dasar sutra tulisan.

“Semua yang dibawa ke Milan ludes terjual. Bagi para pelaku bisnis, Batik Durian sudah bisa masuk tatatan bisnis industri potensial,” selorohnya.

Disinggung soal hak paten, Rina menjelaskan pada awalnya diajukan ke Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) atas nama Pemkot Lubuklinggau. Namun menemui banyak kesulitan jika hak paten menggunakan nama lembaga.

Akhirnya dinas terkait membuat paten Batik Durian atas nama, Hj Yetti Oktarina pada 2013. Meski demikian, siapapun bisa memproduksi dan menjual Batik Durian tanpa memberikan keuntungan kepada founding-nya.

“Target kedepan, memperkuat produksi dengan menambah enterprenuernya. Saat ini saya terus mencari pengrajin untuk peluang bisnis yang kuat. Janji kepada pengrajin, saya tak berminat menjadi pengrajin batik, karena misi saya sebagai pencipta Batik Durian hanya ingin melihat batik ini tetap eksis dan berkembang. Itu saja,” tegasnya.

Tiga tahun kedepan, Batik Durian direncanakan akan tetap berangkat ke Milan. Sebab sudah ada pembicaraan bersama Mbak Jenny yang bukan hanya desaigner, namun juga pebisnis fashion.

Selain sudah punya pengalaman dan branding, Mbak Jenny memiliki jaringan kuat di Milan. Batik Durian bisa tampil spesial dan mendapat apresiasi pangsa pasar Eropa.

*Menarik Perhatian KBRI, Beri Bantuan Sponsor

Kehadiran Batik Durian di Milan ternyata menarik perhatian Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Roma, ibukota Italia. Buktinya, Minister Counsellor Bidang Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Roma, Danang Waskito menawarkan bantuan fasilitas dan sponsor untuk mendukung penampilan Batik Durian dalam fashion week internasional itu.

“Sesuai kesepakatan dengan pak Danang, kami menyiapkan kostum Batik Durian dan penyajian video tentang pembuatan Batik Durian Lubuklinggau. Materinya diperkaya dengan nuansa dan pesona daerah. Adapun stok kostum plus selendang Batik Durian disiapkan sekitar 70 potong,” bebernya.

Setelah melalui proses koreksi yang ketat, barulah Batik Durian dipamerkan dalam fashion show dan menuai apresiasi luar biasa. Bahkan kami diminta menampilkan ulang produk Batik Durian selama tiga hari mulai 23-25 September 2021 secara gratis.

“Kalau bayar, butuh biaya sekitar Rp 85 juta. Demikian pula biaya untuk pameran yang difasilitasi KBRI, butuh dana Rp 85 juta. Tapi kita tidak bayar, semuanya gratis,” jelasnya.

Belum lagi keikutsertaan Batik Durian dalam MFW, diliput sejumlah media internasional terkemuka. Bahkan Mr Fernando Burgo, ikut memajang produk Batik Durian pada billboard besar di tempat paling strategis di Kota Milan,” kata Rina.

*Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

Koleksi produk Batik Durian yang tampil dalam MFW, merupakan hasil pengembangan produk baru. Batik Durian didesign khusus agar berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Semua bahan bakunya menggunakan bahan organik seperti pewarna batik, menerapkan teknik pewarnaan alam dengan bahan dominan yang dipakai berasal dari jengkol, pinang dan daun mangga.

“Bahan kulitnya bersumber dari buah-buahan. Tidak menggunakan bahan berasal dari hewan. Kebetulan ada produk sponsor dari anak-anak kreatif Indonesia, binaan Kementerian Koperasi, mengembangkan kulit dari bahan-bahan limbah pengolahan kopi dan buah-buahan lainnya. Penggunaan bahan kulit tersebut, menambah daya tarik batik durian yang dipamerkan,” demikian Rina. (Dhia/ADV)

News Feed