oleh

Keluarga Sehat Ekonomi Meningkat Melalui Tanaman Herbal

Ketua kelompok tani Herbal Kenanga Babat Supat, Muba Yeni Lusmita saat memperlihatkan produk tanaman herbalnya.
Ketua kelompok tani Herbal Kenanga Babat Supat, Muba Yeni Lusmita saat memperlihatkan produk tanaman herbalnya.

Urusan kesehatan seringkali hanya identik dengan minum vitamin atau pergi ke dokter untuk menyembuhkan penyakit. Padahal, konsep kesehatan luas dan mencakup sisi kesehatan jiwa, raga, sosial, dan lingkungan. Mengembangkan halaman rumah yang sehat menjadi satu pilar mengupayakan kesehatan secara menyeluruh.

Minat orang untuk mengonsumsi obat herbal serta pengobatan tradisional terus meningkat. Pada umumnya mereka menganggap tanaman obat lebih alami sehingga lebih aman. Serta dapat mengobati segala macam penyakit. Seperti darah tinggi, jantung, kanker, dan lain-lain.

Di Indonesia saja, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2010 yang dilakukan Kementrian Kesehatan menunjukkan, 59,12 persen penduduk pernah mengonsumsi jamu dan 95 persen dari jumlah tersebut mengakui manfaat ramuan tradisional untuk kesehatan.
Jenis tanaman obat yang paling banyak diolah sendiri untuk menjadi ramuan antara lain jahe (50,36 persen), kencur (48 persen), temulawak (39 persen), meniran (13 persen), serta pace (11 persen).

Sehingga hal itu juga membuat masyarakat di Jalan Palembang-Jambi KM 77, Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi banyuasin (Muba) berminat untuk mendirikan kelompok tani tanaman herbal.

Masyarakat Desa Gajah Mati ini mengusulkan ke PT Medco E&P Indonesia Rimau Asset untuk menjadi mitra binaan untuk mengupayakan kesehatan dari halaman rumah, sesempit apapun itu. 2011, Kelompok tani Herbal Kenanga diresmikan. Cara kelompok tani herbal ini mengupayakan kesehatan adalah dengan mengembangkan kebun tanaman herbal yang berguna untuk masyasrakat banyak.

Ketua kelompok tani Herbal Kenanga Babat Supat, Muba Yeni Lusmita (46) mengatakan, dirinya membuka kelompok tani herbal ini terinsiprasi dari kesehatan sang suami. “Waktu itu suami saya M Ambar Pujo Utomo mengalami sakit darah tinggi (hipertensi) yang tak kunjung sembuh. Bahkan setiap hari mengomsumsi obat,” kenang Yeni Lusmita ketika ditemui pada acara Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumatera Selatan bersama jajaran SKK Migas saat melakukan kunjungan ke Medco E&P Indonesia Rimau Asset, beberapa waktu lalu.

Hal inilah membuat dirinya merasa sedih melihat sang suami, dan berusaha untuk mencari jalan lain untuk menyembuhkan penyakit sang suaminya. “Pada waktu itu ada teman yang bilang tanaman sambung nyawa bisa mengobati darah tinggi,” ungkap ibu empat anak ini.

Saran itu langsung dilakukan untuk mengobati sang suami. Tanaman herbal sambung nyawa itu langsung dicari dan direbus untuk dimakan. “Alhamdulillah, sejak rutin mengomsumsi tanaman herbal sambung nyawa itu, penyakit suami saya sembuh sampai sekarang,” ujar Yeni.

Berbekal pengalaman itu, dirinya langsung berniat menanam seluruh tanaman herbal yang berguna untuk mengobati segala macam penyakit. “Saya langsung membuat proposal ke PT Medco E&P Indonesia Rimau Asset untuk menjadi mitra binaan. Alhamdulillah, 2011 kelompok tani herbal Kenanga berdiri,” jelas Yeni.

Dikatakan dia, sejak menjadi mitra binaan PT Medco E&P Indonesia Rimau Asset banyak sekali ilmu yang didapat. “Saya sering diikutkan oleh PT Medco keberbagai seminar tanaman herbal,” pungkasnya.

Bahkan, PT Medco E&P Indonesia Rimau Asset banyak sekali telah memberikan bantuan kepada kelompok tani herbal Kenanga. Seperti blender, oven untuk pembuat kapsul obat herbal. “Semua bantuan PT Medco sangat berguna sekali untuk mengembangkan usaha herbal Kenanga,” pungkas Yeni.

Bahkan, diakui Yeni, saat ini sudah memiliki 100 jenis tanaman herbal  yang bisa mengobati segala macam penyakit. Seperti tanaman herbal pegagan, sendok, daun dewa, daun kelor, jintan miana, kemuning, waru lengis, nampu hijau, tempuyung, tapak kuda, daun sirih, mengkudu, semanggi gunung, brotowali, sambiloto, kumis kucing, dan lain-lain. “Untuk tanaman herbal pegagan saja berkhasiat untu obat kulit, mempeerbaiki peredaran darah dan gangguan saraf,” jelas Yeni.

Sebenarnya, pengolahan tanaman menjadi produk herbal tidaklah terlalu sulit. Sebab, kebanyakan masyarakat masih memfaatkan obat kimia. “Memang obat herbal itu tidak bisa langsung sembuh, butuh proses untuk melakukan penyembuhan,” pungkasnya.

Bahkan, berbagai produk herbal sudah diprodusi. Mulai dari serbuk, tablet, dan botolan. “Racikan dari tanaman herbal itu sudah kita ramu sehingga masyarakat luas dapat mengonsumsi untuk penyembuhan berbagai penyakit,” imbuh Yeni sambil mengatakan bermacam harga obat herbal yang dijual mulai dari Rp20 ribu sampai Rp200 ribu.

Dikatakan Yeni, saat ini dirinya sudah membina 150 kelompok. Dan kelompok binaan sudah membuat dan memasarkan obat herbal ke masyarakat luas. “Para kelompok binaan sebelumnya diberi pelatihan dan penjelasan masalah pengembangan dan kegunaan tanaman herbal,” paparnya.

Ia mengaku, dirinya dan kelompok binan saat ini telah sudah mandiri dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. “Alhamdulillah saya tidak lagi minta uang suami untuk keperluan dapur. Dan bisa membiaya anak sekolah,” imbuh Yeni.

Ahmad (30) warga Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin mengaku bahwa diriya setelah mengonsumsi herbal stamina tubuhnya selalu sehat. “Saya minum Javanani Hebat setiap hari. Saya beli dengan harga 50 ribu satu botolnya dengan ibu Yeni,” ujar Ahmad.

Septi Ayu Virgilisa selaku Community Relation and Enhancement Officer PT Medco E&P Indonesia Blok Rimau menuturkan, sebelum memberikan bantuan pihaknya terlebih dahulu mempelajari potensi usaha yang akan dikembangkan oleh masyarakat. “Dari tahun 2010 lalu, PT Medco melakukan mitra binaan kepada masyarakat khususnya wilayah kerjanya,” pungkasnya.

Dikatakan dia, mitra binaan yang dilakukan pihaknya selain diberi bantuan pembibitan juga memberikan pelatihan. “Kita juga sering mendatangkan tenaga ahli dibidangnya. Dan juga memberangkatkan mitra binaan untuk mengikuti pelatihan,” ungkapnya.

Pimpinan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Akupunktur Serasi sekaligus praktisi Akupunktur Asrayuddin ST mengatakan program binaan yang dilakukan PT Medco E&P Indonesia Rimau Asset sangat tepat sekali. Dimana dengan melalui program tanaman herbal keluarga menjadi sehat dan ekonomi meningkat. “Program binaan tanaman herbal sangat membantu sekali perekonomian masyarakat,” ujar Asra saat ditemui ditempat praktek akufunturnya di Jalan R Soekamto Palembang, Jumat (8/9).

Dikatakan Asra, melalui tanaman herbal ini selain bisa menjadi tindakan preventif untuk berbagai penyakit seperti hipertensi dan diabetes sekaligus bisa menambah income bagi keluarga.  “Seperti kita ketahui bahwa kedua penyakit ini membutuhkan pengobatan jangka panjang. Sehingga bila semua masyarakat sudah mempunyai budaya menjadikan makanan sebagai obat dan obat sebagai makanan, minimal bisa meningkatkan produktivitas kerja. Dan juga membantu mengurangi anggaran biaya pengobatan yang luar biasa besarnya,” pungkasnya.

Bahkan, dirinya juga sudah membuat konsep Healthypreneurship yaitu satu kecamatan, satu pusat kesehatan tradisional (Puskestra). Yang mana peran dari Puskestra ini adalah sebagai pusat pembinaan dan pengembangan semua produk tradisonal baik itu tanaman herbal, mulai dari edukasi proses penanaman sampai proses pengolahan tanaman herbal ini menjadi obat maupun menjadi healthydrink. Termasuk pengobatan tradisional yang lain seperti akupressure, pijat bayi, bekam dan sebagainya. “Mudah-mudahan konsep ini ini bisa bermanfaat untuk masyarakat sumsel,” imbuhnya. (novas riady)

 

 

 

News Feed