oleh

Kisah Pak Tua Tukang Tambal Jalur Dua Demporeokan, Bekerja Tak Kenal Lelah Hingga Malam Hari

PAGARALAM, MS – Menikmati hidup bahagia dan sejahtera dihari tua impian semua orang. Namun tak dialami oleh Malik warga jalur dua Demporeokan Jalan Kapten Sanap, Kelurahan Pagaralam. Kota Pagar Alam.
Diusia 65 tahun dirinya masih berjuang mencari sesuap nasi untuk menghidupi keluarga dengan berprofesi penambal ban motor.

Malik menceritakan kisahnya sebagai tukang tambal ban berawal di daerah Lahat. Malik mengaku sudah hampir 31 tahun menjadi tukang tambal ban.

Dia memulai pekerjaannya itu sekitar 1990-an. “Saya melakoni pekerjaan itu setelah bengkel sepeda motor milik keluarganya tak beroperasi lagi,” ujar Malik, Kamis (18/3/2021).

Saat berusia muda Malik menambal ban berbagai kendaraan, termasuk truk Fuso dan sejenisnya. Namun, seiring berjalannya waktu dan usianya yang semakin menua, Malik fokus pada tambal ban motor milik Maharomi.

Kini, di umurnya yang sudah lanjut usia (lansia), Malik masih terus produktif bekerja sebagai penambal ban. Bahkan jam kerjanya terbilang ekstrem. Dia bekerja mulai pagi hingga malam hari.

“Kalau siang sampai sore kan banyak penambal ban lain, jadi relatif sepi. Tapi kalau malam ya tinggal saya yang buka. Jadi ya lumayan lah. Saya tidak pernah lelah saat menunggu rezeki datang,” ungkapnya.

Bagi pengendara sepeda motor yang apes mengalami ban bocor atau kempes pada tengah malam di Jalan Jalur dua Demporeokan, Malik bisa jadi penolong.

Hal ini dialami pengedara bernama Dayat. Ia mengatakan, sepeda motor Yamaha Vega R yang dikendarainya saat melintas di Jalan Jalur dua depan masjid tiba-tiba ban pecah. “Saya takut sekali, mana hari sudah pukul 20.50 WIB. Lalu lintas disana sepi,” ungkap Dayat.

Diakuinya, saat itu sudah malam, tidak mudah menemukan tukang tambal ban pada jam itu. Sementara rumah masih jauh. Jika tak berhasil mendapatkan tempat tambal ban, apes lah, terpaksa menuntun motor sampai rumah.

“Saat itu lah ada seorang pengguna jalan baik hati yang memberi tahu, ada tukang tambal ban tidak jauh dari sini Manahan. Biasanya tukang tambal ban itu buka hingga malam hari,” pungkasnya.

Benar saja, ada seorang bapak-bapak tua tukang tambal ban di lokasi yang ditunjukkan pengguna jalan tadi.

“Saat saya kesana, Pak tua itu sedang rebahan yang hanya beralaskan tikar saja,” imbuhnya.

“Tambal ban?” tanya dia sopan.

Tak perlu waktu lama, Pak tua bernama Malik itu pun langsung mengambil alat dan membongkar ban tersebut sehingga mengecek kebocorannya. Langsung ditariknya ban dalam yang bocor dan mendekatkanya ke arah drum yang birisi air.

Setelah itu ban dia isi angin dan celupkan lagi ke dalam air. Proses itu dilakukan untuk mendeteksi titik atau bagian ban dalam yang mengalami kebocoran.

“Bila ada bagian ban yang bocor gelembung udara akan menyembul ke permukaan. Bocor mas, satu titik,” tutur Malik sembari menunjukkan bagian ban yang bocor lantas menutupnya dengan kayu kecil.

Setelah menemukan bagian yang bocor, dia menggesek area sekitar lubang dengan gergaji halus. Untuk memudahkan proses itu, ban halus dibalutkan di batangan besi atau kayu yang bulat.

Proses pemanasan area sekitar lubang harus menipis dan kasar agar elemen penambal bisa merekat optimal ketika proses pemanasan menggunakan api. Selain itu elemen penambal bisa memuai rata dengan permukaan asli ban aslinya.

“Kalau asal-asalan, termasuk saat pemanasan menggunakan api, permukaan ban jadi tak rata dan tambalan bisa lepas. Jadi seperti ini,” urai Malik sembari menunjukkan tambalan lain yang menurut dia tak sempurna. (len)

News Feed