You are here
Miris… Pelajar SMP Harapan Ulba Belajar di Sekolah yang Nyaris Roboh DAERAH HEADLINE 

Miris… Pelajar SMP Harapan Ulba Belajar di Sekolah yang Nyaris Roboh

MUSI BANYUASIN, MS – Sungguh miris SMP Harapan di Desa Ulak Embacang (Ulba) Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Betapa tidak, bangunan sekolah tersebut nyaris roboh dikarenakan akan terjadi hal yang tidak diinginkan sebanyak 30 pelajar SMP itu terpaksa menumpang belajar bekas di SD Negeri 2 Ulak Embacang.

Berdasarkan pantauan wartawan media online Metro Sumatera, Sabtu (24/02/18) para siswa sekolah swasta ini terpaksa menumpang, Karena gedung sekolah mereka sudah tidak ada lagi sejak puluhan tahun lalu. Sementara pemerintah melalui dinas terkait belum ada upaya untuk membangun gedung yang layak bagi anak-anak SMP didesa Ulak Embacang ini.
Salah satu siswa Kelas IX SMP Harapan, Kasdiono mengaku, sangat khawatir dan takut sekali bila ketika proses belajar mengajar berlansung. Sebab sekolah tempatnya belajar ini bila roboh.

“Kami takut pak, khawatir bila sedang belajar ditimpa atap atau sekolah kami ini roboh,” ungkapnya.

Untuk itu, ia mengharapkan sekali agar pemerintha segera membangun sekolah tempat para SMP ini menimba ilmu.

“Kami berharap pemerintah bisa segera membuat rumah sekolah dan kelas baru. Kalau dikelas ini sering kaki kami kejeblos dilobang lantai papan. Kami ingin kelas yang bagus, nyaman dan aman untuk belajar,” harapnya.

Sementara Alpian (45) warga Dusun I. Desa Ulak Embacang menjelaskan bahwa SMP Harapan ini adalah sekolah yang telah cukup lama berdiri di Desa Ulba. Serta telah banyak siswa lulusan dari sekolah ini yang menjadi orang sukses dikota-kota besar.
“Setahu saya SMP Harapan ini adalah sekolah tertua yang ada di desa Ulak Embacang. Kalau tidak salah berdiri sejak tahun 1977. Dan telah banyak lulusan dari SMP ini yang telah melanjutkan ke jenjang S3. Ya, infonya telah ada yang jadi Doktor lulusan dari SMP Harapan ini,” pungkasnya.

Bahkan dikatakan dia, dari dulu sampai sekarang SMP ini ujian nasionalnya masih ikut di SMP Negeri. “Kalau dulu nginduk di Kecamatan Babat Toman diera tahun 1980 an. Tapi sayang pemerintah kurang perhatian untuk membangun dan memperhatikan sarana pada SMP Harapan Ulba,” ujar Alfian didampingi Trisno, Kadus IV.

Senada juga diungkapkan oleh Alzairin, Aktivis dari Lembaga Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) Kabupaten Musi Banyuasin. Ia menduga sekolah ini luput dari perhatian pemerintah.

“Setahu saya SMP Harapan ini baru sekali dibantu oleh pemerintah yakni membangun satu ruang kelas, tetapi ruang kelas tersebut jauh dari sekolah sekarang. Sehingga ruang kelas yang dibangun pemerintah itu tidak digunakan oleh para guru dan siswa. Karena jauh dan hanya satu kelas saja,” ungkapnya.

Kepala Sekolah SMP Harapan, Hoklim SAg. saat ditanya oleh wartawan mengatakan bahwa sekolah yang dipimpinnya status swasta, Dengan nama Yayasan Harapan hingga disebut SMP Harapan. Saat ini sekolah mempunyai 16 tenaga pengajar dan 30 siswa. Dengan waktu belajar siswa pada sore hari, dan status ujian siswanya nginduk pada SMP Negeri 1 Sanga desa. Serta Akta Notarisnya belum ada.
“Pernah dapat bantuan bangunan satu ruang kelas, dengan cara mengajukan proposal pada dinas terkait. Sesudah itu tidak pernah mendapatkan bantuan lainnya dari pemerintah. Sementara sekarang menumpang pada bekas bangunan sekolah SD Negeri 2 Ulak Embacang yang sudah lapuk dan tidak layak dihuni lagi. Dan Khawatir saat proses kegiatan pembelajaran terjadi insiden roboh atau hal yang tidak diInginkan terjadi,” katanya.
Ketika ditanya alasan lambatnya dibantu oleh pemerintah melalui dinas terkait dan pemerintah desa serta kenapa ruang yang dibangun itu tidak difungsikan, Hoklim juga menambahkan bahwa pihak sekolah dan pemerintah desa jarang berkoordinasi. Dan sekolah tidak bisa menggunakan ruang kelas yang dibangunan dari bantuan tersebut, karena faktor jarak dan hanya satu ruangan.
“Untuk bincang-bincang dengan kades pernah, namun secara resmi membahas sekolah belum pernah. Bantuan yang satu lokal atau satu kelas itu tidak dapat kami pakai, sebab tidak cukup untuk para siswa yang ada. Karena cuma satu lokal dan jauh dari kelas yang ada,dengan jarak sekitar 200 meter. Hanya satu kelas tidak cukup dengan jumlah siswa yang ada,Sedangkan kelas yang dibutuhkan sebanyak tiga kelas atau tiga lokal,” imbuhnya.
Sementara Kepala Desa Ulak Embacang, Karneli, mengakui bahwa dirinya jarang berkoordinasi dengan pihak sekolah. Dan dirinya belum pernah mengajukan permohonan untuk membangun sekolah SMP Harapan. Hanya pernah dibahas dan dibawahnya saat rapat pembahasan Musywarah Rencana Pembangunan kecamatan (Musrenbangcam), namun pengajuan secara tertulis belum pernah ia lakukan mengingat status sekolah tersebut adalah sekolah swasta.
“Belum pernah diajukan kalau secara tertulis,karena mengingat sekolah itu swasta. Tapi kalau dibahas saat musrenbang pernah,Di desa jugakan ada sekolah MTS yang setingkat dengan SMP. Jadi belom pernah kami ajukan, sekarang bae SMP Harapan tu numpang pada Sekolah SD 2 Ulak Embacang,” katanya. (sba)

Related posts

Leave a Comment