You are here
Oknum Pensiunan ASN Diduga Cabuli Enam Remaja HEADLINE KRIMINAL 

Oknum Pensiunan ASN Diduga Cabuli Enam Remaja

OKU, MS – Perbuatan oknum pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) tega melakukan pelecehan seksual terhadap remaja tak patut dicontoh.

Pasalnya, tak tanggung tanggung, oknum ASN dengan inisal RH itu mencabuli sebanyak 6 remaja laki-laki di kebun miliknya yang terletak di Baturaja Timur.

Keenam korban pelecehan seksual itu antara lain, R (14), H (14), S (14), M (15), P (15), dan A (15). Semuanya warga Kabupaten OKU.

Aksi tersebut diduga sudah berlangsung sejak lama. Aksi ini terungkap setelah salah satu korbannya mengaku kepada orang tuanya.

R, salah seorang orang tua korban mengaku baru mengetahui pelecehan seksual tersebut setelah salah satu teman anaknya berinisial M pulang ke rumah.

Saat itu, korban M mengeluh sakit di bagian bokong. Awalnya, korban M enggan mengaku kejadian yang dialaminya.

Bahkan saat itu, pelaku juga sempat menjemput korban untuk kembali bekerja dengannya, tapi ditolak.

“Setelah ditanya alasannya korban menolak, di situlah baru ketahui jika ia kerap dilecehkan (sodomi) oleh tersangka,” ungkapnya.

Dikatakan R, aksi bejat pelaku ini dilakukan di pondok kebun jagung milik pelaku. Biasanya, pelaku mengajak para korban ke kebun untuk membantunya mengurus kebun jagung.

Aksi pelaku ini dilakukan biasanya saat makan siang. Saat anak anak tidur siang usai bekerja.

Di saat tidur itulah pelaku melancarkan aksinya. Para korban ada yang disodomi dan juga dioral oleh pelaku.

”Anak-anak mengaku kalau habis makan siang sering tertidur, giliran terbangun ada celana yang sudah terbuka,” terangnya.

Sementara, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPAI) Kabupaten OKU, Hasmiati yang mendapat laporan sejak 21 Januari lalu langsung melaporkan peristiwa tersebut ke polres OKU.

Menurutnya, LPAI akan terus mengawal kasus tersebut hingga pelaku ditangkap dan diadili. “Karena tindakan pelaku sudah di luar kewajaran,” ujarnya.

Berdasarkan pengakuan korban kejadian tersebut terjadi pada tahun 2020. Bahkan ada yang terjadi pada tahun 2018.

Dan terkait masalah ini, LPAI rencananya akan mendatangi Mapolres OKU 25 Januari mendatang untuk menyerahkan bukti, dan mendatangkan para saksi. (Andre)