You are here
Pendemo Nyaris Bentrok dengan Aparat DAERAH HEADLINE 

Pendemo Nyaris Bentrok dengan Aparat

LUBUKLINGGAU, MS – Massa pendemo Gerakan Masyarakat Penegak Keadilan (Gemapeka) Desa Lawang Agung Kabupaten Musi Rawas Utara  di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau nyaris bentrok dengan aparat kepolisian yang menjaga jalannya demo sidang vonis terdakwa kasus dugaan pencabulan.

Unjukrasa yang dilakukan ratusan masyarakat di PN Lubuklinggau dari pukul 11.00 WIB sampai dengan pukul 12.30 WIB yang meminta terdakwa Erwin bin M Yamin dibebaskan awalnya berjalan damai,kendati dengan nada keras menuntut aparat penegak hukum.

Namun, ketika unjukrasa berakhir tiba-tiba salah satu pengunjukrasa bersama beberapa orang lainnya berteriak bahwa dirinya diancam akan ditembak oleh polisi.

Nah mendengar laporan itu massa lainnya tersulut emosi dan mencari oknum anggota polisi yang diduga mengancam akan menembak tersebut,hingga nyaris terjadi bentrok.

Beruntung keributan ini dapat diredam baik oleh massa pengunjukrasa maupun anggota kepolisian yang berjaga.

Massa Gemapeka ini berunjukrasa menuntut keadilan ke PN Lubuklinggau untuk berlaku adil dalam mengadili terdakwa Erwin bin M Yamin yang diduga melakukan pencabulan, karena massa meyakini terdakwa hanya menjadi korban fitnah.

Koordinator aksi, Hasbi Nusantara mengatakan bahwa Erwin menjadi korban fitnah dalam kasus pencabulan yang tidak pernah dilakukannya, sebab dari beberapa proses hukum yang dilakukan terdapat kejanggalan.

“Selama tiga bulan polisi mencari alat bukti yang cocok, intinya, pengacara yang diberikan kepada terdakwa tidak bagus, karena katanya tadi tergantung pengacara,” ucapnya.

Hasbi juga menyampaikan tiga tuntutan Gemapeka yakni pertama mendesak majelis hakim PN Lubuklinggau yang akan membacakan vonis terhadap Erwin untuk dapat memperhatikan fakta fakta persidangan dan berlaku objektif dengan penuh rasa keadilan.

Kedua, mendesak majelis PN Lubuklinggau untuk membebaskan terdakwa dari segala dakwaan dan tuntutan jaksa atas kasus dugaan pencabulan,mengingat dalam fakta persidangan terindikasi tidak ada satu dasar ukum yang bisa dijadikan landasan atau bukti yang menguatkan kejadian tersebut,terakhir massa meminta keadilan ditegakkan untuk kemaslahatan umat.

Menyikapi demo ini, Wakil Ketua PN, Herry Suryawan yang menemui para pengunjukrasa menjelaskan bahwa dalam sebuah kasus tidak mudah penyidik menetapkan seseorang menjadi tersangka, setelah lengkap alat bukti barulah ditetapkan.

“Kemudian polisi melimpahkan berkas ke kejaksaan jika P21, jika berkas belum P21 maka berkas akan dikembalikan, dan akan dicek lagi oleh jaksa, kalau belum lengkap maka diminta untuk dilengkapi,” terang dia.

Kendati adanya tekanan massa ini, Majelis hakim PN Lubuklinggau tetap memvonis terdakwa 10 tahun kurungan penjara. (dhiae)

Related posts

Leave a Comment