You are here
Pertanyakan Dasar Penetapan PDP, Layangkan Surat ke Dua Rumah Sakit DAERAH HEADLINE 

Pertanyakan Dasar Penetapan PDP, Layangkan Surat ke Dua Rumah Sakit

LUBUKLINGGAU, MS – Ada yang janggal dalam penetapan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) terhadap almarhum Hamdan. Pasalnya meski hasil Swab menyatakan negatif, namun pasien tetap diberlakukan layaknya pasien positif covid 19.

Hal ini dinyatakan kuasa hukum keluarga Almarhum Hamdan, Abdusy Syakir, Jumat (5/6)

“Kita sudah melayangkan surat ke Rumah Sakit (RS) Siloam Silampari dan Rumah Sakit Siti Aisyah untuk meminta klarifikasi atas kejanggalan-kejanggalan terhadap status PDP almarhum,” jelasnya.

Tak hanya itu pihak keluarga juga mempertanyakan dasar penetapan almarhum sebagai PDP Covid 19 saat di rawat didua rumah sakit tersebut.

“Harus ada klarifikasi dan dasar penetapan secara medis bukan hanya berdasarkan asumsi,” tambahnya.

Dijelaskan Abdusy Syakir, bahwa almarhum Hamdan dirawat di RS Siloam pada 1 Mei 2020 sampai 10 Mei 2020. Saat menjalani perawatan selama 3 sampai 4 hari diruang ICU, dan ditanggal 4 Mei 2020 dipindahkan ke ruang isolasi dengan alasan yang disampaikan secara lisan agar pasien tidak menganggu pasien lain dan terdapat kecurigaan penyakit beliau mengarah ke Covid 19.

Kemudian, almarhum menjalani dua kali pemeriksaan Covid 19, pertama dirapid tes dan hasilnya non reaktif lalu di Swab dan hasilnya pun negatif.

Selanjutnya, pada 10 Mei 2020 almarhum dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang oleh RS Siloam Silampari tanpa ada penjelasan apakah almarhum harus menjalani isolasi baik mandiri ataupun isolasi ditempat lain.

Sebagai implikasi penerapan protocol kesehatan (ditempatkan diruang isolasi) oleh pihak Rumah Sakit Siloam Silampari, sehingga atas dasar itu maka pihak keluarga berkesimpulan secara medis almarhum dinyatakan sembuh dari Penyakit jantung termasuk bukan pasien dengan status Positip Covid-19.

Setelah dinyatakan sembuh dan keluar dari Rumah Sakit Siloam Silampari, pada Selasa 12 Mei 2020 Iebih kurang pukul 20.00 wib Almarhum H Hamdan Bin Amat, mengalami sakit kembali dan oleh pihak keluarga kemudian dibawa kembali ke Rumah Sakit Siloam Silampari Lubuklinggau untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi setelah lebih kurang 3 jam berada di ruang IGD, oleh pihak Rumah Sakit Siloam Silampari almarhum dirujuk ke Rumah Sakit Siti Aisyah dengan alasan bahwa dokter yang merawat beliau sebelumnya yakni Dr. Azhim sedang cuti dan tidak ada dokter penyakit dalam yang menangani saat itu.

Atas dasar penjelasan tersebut dan setelah pihak Rumah Sakit Siloam Silampari berkoordinasi dengan Dokter Novi yang berpraktek di RS Siloam, terhadap penanganan medis Almarhum H. Hamdan Bin Amat, Dokter Novi menyarankan agar dirawat di Rumah Sakit Siti Aisyah dikarenakan kebetulan beliau (Dokter Novi) juga berpraktek di Rumah Sakit Siti Aisyah dan agar beliau yang akan menangani almarhum.

Akan tetapi ternyata saat sampai di Rumah Sakit Siti Aisyah yang menangani bukan Dokter Novi tapi Dokter Ahmar. Berkenaan teknis rujukan Almarhum H Hamdan Bin Amat ke Rumah Sakit Siti Aisyah pada Selasa malam dilakukan secara online oleh pihak Rumah Sakit Siloam Silampari sendiri dan diantar menggunakan ambulance milik Rumah Sakit Siloam Silampari.

Saat dilakukan penanganan medis di Rumah Sakit Siti Aisyah, setelah diruang IGD lebih kurang 3 sampai 4 jam atau tepatnya pada pukul 23.30 wib almarhum ditempatkan pada ruang umum yakni ruangan Al Mulk lebih kurang 3sampai 4 hari sehingga kemudian pihak keluarga dapat mengunjungi dan menjaganya dan tidak dilakukan tes baik rapid test maupun SWAB oleh pihak Rumah Sakit Siti Aisyah kepada Almarhum.

Baru kemudian pada sekira malam minggu tanggal 16 Mei 2020 oleh pihak Rumah Sakit Siti Aisyah dibawa kesuatu tempat area Rumah Sakit Siti Aisyah dan pihak keluarga tidak tahu namanya karna tidak diperkenankan ikut dan tenaga medis menggunakan APD lengkap, setelah itu Almarhum dipindahkan keruang isolasi akan tetapi alamarhum menolak karena beranggapan tidak mengalami sakit covid-19.

Namun, pihak Rumah Sakit menyatakan jika ingin tetap dirawat maka harus mengikuti prosedur, sehingga almarhum akhirnya berada di ruang isolasi yang kemudian diikuti permintaan menandatangani surat pernyataan oleh pihak Rumah Sakit berkenaan dengan status almarhum dan ditandatangani oleh pihak keluarga.

Setelah menjalani perawatan diruang isolasi pasien Covid 19, pada Minggu 17 Mei 2020 sekitar pukul 14.15 almarhum menghembuskan nafas terakhirnya tanpa didampingi satu orangpun keluarga atau berada dekat dengan pihak keluarga dikarenakan status yang melekat sebagai pasien Covid-19 terlanjur melekat pada Almarhum sehingga diterapkan protokol kesehatan.

Pada hari itu juga almarhum dimakamkan dimana sebelumnya pihak Rumah Sakit Siti Aisyah sesuai protokol kesehatan akan memakamkan beliau di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Taba Lestari (TPU khusus Covid-19), akan tetapi pihak keluarga meminta agar dapat dimakamkan di Desa Rantau Alih Kecamatan Sukakarya Kabupaten Musi Rawas.

Sehingga almarhum dibawa dengan ambulance menuju ke tempat pemakaman disertai tenaga medis yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dan aparat keamanan, akan tetapi sebagian dari rombongan hanya mengantarkan jenazah sampai diperbatasan Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas dan sebagian langsung menuju ke Desa Rantau Alih Kecamatan Sukakarya Kabupaten Musi Rawas sebagaimana permintaan keluarga. Bahwa setelah sampai di pemakaman, proses pemakaman Almarhum dilakukan oleh pihak keluarga dengan menggunakan APD seadanya, bukan oleh tenaga medis yang seharusnya padahal saat menjalani perawatan medis baik di Rumah sakit Siloam Silampari dan Rumah Sakit Siti Aisyah terhadap almarhum sudah diterapkan protokol kesehatan Covid-19.

Dikatakan, Abdusy Syakir, bahwa berkenaan adanya kecurigaan dan analisa medis pihak Rumah Sakit Siloam Silampari, almarhum mengidap penyakit Covid-19 pada saat dirawat, pihak keluarga secara resmi tidak diperlihatkan hasil analisa medis termasuk menandatangani semacam surat pernyataan jika benar Almarhum merupakan pasien Covid-19 sebagaimana prosedur yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Siti Asiyah meskipun faktanya almarhum sempat beberapa lama berada diruang isolasi bagi pasien Covid-19.

Jika benar almarhum merupakan pasien Covid-19 meskipun hasil 2 (dua) kali rapid test Non Reaktif dan hasil SWAB menyatakan Negative, tentu kemudian harus dilakukan tracking terhadap pihak keluarga atau pihak lain yang sempat berinteraksi dengan beliau sebelum dinyatakan sehat dan pulang pada tanggal 10 Mei 2020 atau sebelum beliau meninggal sesuai protocol kesehatan.

Bahwa terhadap tindakan pencegahan yakni tracking, baru dilakukan pada tanggal 18 Mei 2020 setelah diperintahkan oleh Dr. Jean Purba (Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kota Lubuklingau) melalui salah seorang dari pihak keluarga yakni di Rumah Sehat Silampari Hotel Hakmaz Taba dlmana dilakukan SWAB sebanyak 8 (delapan) orang keluarga, pada tanggal 19 Mei 2020 di Puskesmas Siderejo (Rapid Tes) sebanyak 5 (lima) orang keluarga dan 3 (tiga) orang keluarga lagi sudah didata tapi sampai saat ini belum dipanggil kembali.

Hal ini menunjukkan bahwa tindakan berupa tracking bagi keluarga atau pihak Iain baru dilakukan pada saat Pasien atas nama almarhum H. Hamdan Bin Amat yang terlanjur dinyatakan pasien Covid-19 dan ditempatkan diruang isolasi dengan protocol kesehatanoleh pihak Rumah Sakit Siloam Silampari Lubuklinggau dan Rumah Sakit Siti Aisyah saat meninggal dunia Ialu dimakamkan di TPU Desa Rantau Alih.

Semestinya,lanjut Abdusy, tindakan berupa tracking bagi keluarga atau pihak lain yang berinteraksi dengan almarhum dilakukan sesaat atau tak lama setelah beliau menjalani isolasi sebagai pasien Covid-19 yakni dalam kurun waktu tanggal 1 hingga 17 Mei 2020 (sebelum meninggal).(dhia)

Related posts

Leave a Comment