You are here
Sidak Supermarket Hypermart, Tim Temukan Produk Non Halal DAERAH HEADLINE 

Sidak Supermarket Hypermart, Tim Temukan Produk Non Halal

LUBUKLINGGAU, MS – Tim Pengawas Peredaran Produk Makanan dan Minuman yang terdiri dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Lubuklinggau, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lubuklinggau, Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kota Lubuklinggau dan Kepolisian, melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke Supermarket Hypermart yang berada di Lippo Plaza Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Rabu (14/12/2016).

Dari sidak tersebut, tim menemukan beberapa produk makanan yang diragukan untuk dijual, yakni belum ada kejelasan halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), seperti makanan merk Ma Ling Luncheon Meat dan Ma Ling Premium yang dijajakan berdekatan dengan produk halal lainnya.

Juga terdapat Mie instan merk Nonechim, Cimau dan Bee Huat yang murni dari luar, seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand yang akhirnya diambil oleh tim. Tidak hanya itu, tim juga memperingatkan agar Hypermart memperjelas dan membedakan rak jual mereka, khususnya produk halal dan non halal, khususnya pada daging dan ikan yang diduga juga terdapat daging babi.

Kepala Disperindag, Hj Farida Aryani melalui Kabid Perdagangan, Sumadi didampingi Kasi Pelayanan dan Perlindungan Konsumen, Zon Maryono mengungkapkan, pihaknya meminta agar pihak supermarket segera melaksanakan himbauan atas hasil temuan tersebut.

“Kami dalam waktu dekat akan melakukan pengecekan lagi, terlebih juga ditemukan produk susu cair yang sudah dekat kadaluarsanya tiga hari lagi. Hypermart juga harus paham dan mengerti sasaran pasar produk mereka. Jadi jangan disamakan, karena dominan warga Lubuklinggau muslim, nanti takutnya terbeli dan mereka tidak bisa menjelaskannya,” tegasnya.

Pihaknya juga meminta terhadap steril dan kebersihan produk yang dijual, karena ada juga ditemukan produk dengan kemasan rusak dan produk ternak yang belum jelas asal muasalnya.

Sementara itu, Kabid Permakmin dan Promkes, Deasi Novia mengaku, juga ditemukan adanya obat-obatan kode biru yang beredar tanpa adanya pengawasan dari farmasi, seperti obat mata, obat batuk dan jenis lainnya.

“Ada tiga golongan jenis obat yang bisa dilihat, Obat bebas ditandai dengan lingkaran warna hijau. Artinya kita bisa membelinya bebas di warung-warung karena efek sampingnya kecil. Untuk tanda lingkaran biru seperti itu, pada kemasan obat, artinya bebas terbatas,” kata dia.

Dijelaskannya, kandungan obat golongan ini lebih keras dari obat bertanda warna hijau. Tetapi, obat dengan tanda lingkaran biru ini masih bisa dikonsumsi tanpa resep dokter, kendati membelinya harus di toko obat atau apotek, serta diperhatikan dosis dan efek sampingnya.

“Pada kemasan obat yang ditandai lingkaran biru, kita lihat apakah ada kontradiksi atau dilarang dikonsumsi oleh orang-orang yang mempunyai penyakit tertentu. Makanya kami minta jangan dijual dulu, sebelum adanya pengawasan farmasi internal dari pihak Hypermart. Karena di supermarket lain sudah ada tim farmasinya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Toko Hypermart Lubuklinggau, Pramono menjelaskan, pihaknya akan segera melaksanakan himbauan dari Tim yang sudah menggelar sidak.

“Kita akan segera memisahkan antara produk impor yang telah ada label halal dari MUI dan produk yang belum memiliki label halal. Itu salah satu himbauan tim sidak tadi,” ungkapnya.

Diakuinya, memang ada beberapa produk yang menjadi sorotan, seperti produk snack, mie instan dengan kornet.

“Yang jelas, kita akan koordinasi dulu ke Jakarta. Sebab, semua aturan dari Jakarta, namun tetap akan kita sosialisasikan yang menjadi aturan disini. Kita juga selama ini rutin menggelar pemeriksaan,” ungkapnya. (Dhiae)

Related posts

Leave a Comment