You are here
Warga Tepung Sari Kembali Bangkit, Batalkan Kesepakatan Dengan PT SAML DAERAH HEADLINE 

Warga Tepung Sari Kembali Bangkit, Batalkan Kesepakatan Dengan PT SAML

TJ 2

 

TJ 3AIRSUGIHAN, MS – Ratusan Warga Desa Tepung Sari, Jalur 23, Kecamatan Airsugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), kembali bergerak menuntut PT Selatan Argo Makmur Lestari (PT SAML), untuk mengembalikan lahan yang dikuasainya.
Ratusan warga desa Tirtamulya dan Tepungsari, Senin (17/8/) pukul 15.00 wib, berkumpul dibalai Desa Tirtamulya melakukan penandatanganan mencabut akte kesepakatan kepada PT SAML.

Hadir dalam acara penandatangan pencabutan kesepakatan dengan PT SAML itu antara lain Budiman, anggota DPRD Kabupaten OKI, asal Airsugihan, Kepala Desa Tirta Mulya, Muhais beserta perangkatnya, dan ratusan Warga Desa yang bersengketa.

Menurut Dedy Irawan, pendamping dari Garda Sriwijaya Indonesia (GSI) Sumsel, bahwa akte kesepakatan itu ditandatangani oknum, tidak semua warga yang bersengketa sepakat dengan pengembalian 75 hektar untuk warga. Buktinya dilapangan mereka resah.

”Pada hari ini akte kesepakatan yang pernah dimediasi Komnas HAM itu, dicabut dan ditandatangani oleh Budiman, yang merupakan anggota DPRD Sumsel, ” ujar Dedy usai pertemuan ratusan warga dan menyaksikan penandatangan mencabut kesepakatan yang dilakukan kelompok tertentu.

Sengketa lahan petani ini bergulir sejak lama. Terjadi sejak 2013 lalu dan selalu terkendala. Mulai pertemuan di kantor Agraria dan Tata Ruang Badan Pertanahan (ATR/BPN) wilayah Sumatera Selatan, maupun pertemuan dengan Bupati.

Pertemuan di ATR/BPN, pihak PT SAML tidak hadir, sementara pertemuan di kabupaten bersama bupati, pihak pemerintah kabupaten tidak bisa bertindak alasannya ada akte kesepakatan yang dimediasi Komnas HAM.

“Kesepakatan itu tidak mewakili warga, karena warga tidak semua setuju. Bisa saja perjuangan warga dimentahkan dengan penandatangan kesepakatan oleh oknum. Nyatanya warga resah sampai sekarang, dan hari ini mereka semua berkumpul di balai desa,” ujar Dedy.

Sementara Suyono, ketua aksi warga yang menolak kesepatakan itu, akan terus berjuang untuk meminta agar PT SAML mengembalikan lahan garapan warga seluas 1,114 hektar, bukan 75 hektar.

“Saya tidak mencari kaya, tetapi untuk kehidupan. Saya berharap PT SAML mengembalikan lahan warga agar warga bisa mengelola lahannya untuk kehidupan. Saya sudah mengadu kemana-mana, apakah saya harus mengadu ke malaikat? ” ujar Suyono yang didampingi Ketua GSI Sumsel, Edy Irawan.

Masyarakat/petani desa Tepungsari Air Sugihan sepakat untuk mencabut akte itu karena tidak ada yang menguntungkan masyarakat. “Kami akan mengambil langkah-langkah baru untuk berjuang kembali mengambil lahan kami yang selama ini sebagai sumber kehidupan masyarakat disini,” tandas Suyono. (*)

Related posts

Leave a Comment