oleh

Gelaran Pra Kongres GNIK : Semangat Kemerdekaan Dalam Mewujudkan Indonesia Kompeten

JAKARTA, MS – Bertepatan dengan perayaan 17 Agustus, Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) menyelenggarakan seri pertama dari lima rangkaian Pra Kongres Nasional Indonesia Kompeten II. GNIK sebagai platform terbuka untuk siapapun yang peduli dan mengambil peran serta kontribusi nyata dalam program peningkatan kompetensi SDM Indonesia melaksanakan rangkaian talkshow Pra Kongres virtual menuju Kongres Nasional Indonesia Kompeten II (KNIK II) yang mengangkat tema “Akselerasi SDM Kompeten dalam Penciptaan Lapangan Kerja dan Kewirausahaan menuju Indonesia Maju”.

Seri 1 Pra Kongres mengangkat tema “Bangga Indonesia! Jadi Kompeten, Siapa Takut?”. Sukses menghadirkan lebih dari 600 peserta, acara ini diikuti oleh praktisi SDM, akademisi, pekerja, serta mahasiswa. Topik seri 1 Pra Kongres ini berangkat dari distrupsi pandemi yang menyebabkan perubahan signifikan dalam kebutuhan serta perilaku belanja masyarakat yang menjadi tantangan bagi pemerintah dan industri.

Menjawab permasalahan tersebut, GNIK menghadirkan 4 sosok inspiratif dari berbagai bidang yang sudah membawa banyak perubahan di Indonesia, yaitu Margareta Astaman (Co-founder PT. Nusantara Segar Global atau JavaFresh), Iki Sari Dewi (Direktur Operasional Grab), Tjhai Chui Mie (Walikota Singkawang), serta Emil Dardak (Wakil Gubernur Jawa Timur).

Hadir sebagai panelis di segmen “Meningkatkan Produktivitas Melalui Reskill dan Upskill Di Bidang Industri”, Margareta Astaman, atau yang akrab dipanggil Margie, mengungkap awal terbentuknya JavaFresh dari kepercayaan terhadap potensi buah Indonesia.

“Di masyarakat masih ada pemikiran, memang bisa buah Indonesia bersaing dengan buah luar negeri? Kenyataannya bisa, sehingga permasalahan ketidakbisaan itu ada di dalam ketidakpercayaan diri kita.” ujar Margie.

Margie sendiri memandang peluang pertanian yang padat karya masih akan ada cukup lama di Indonesia, dan hal tersebut bisa dijalankan bersamaan dengan implementasi teknologi.

Tidak hanya Margie, hadir pula Iki Sari Dewi yang berbagi pengalamannya sebagai Direktur Operasional Grab dalam mencari peluang ditengah pandemi. Beberapa peluang yang dilihat Grab dalam awal pandemi berawal dari keinginan menjadi solusi atas krisis pandemi yang membatasi aktivitas masyarakat. Grab langsung bertindak cepat menjawab kebutuhan masyarakat dengan membuat produk-produk baru seperti GrabHelp untuk kebutuhan konsultasi kesehatan, GrabMart untuk berbelanja sehari-hari, serta GrabExpress untuk mengirimkan barang. Iki juga menuturkan bahwa salah satu kunci kesuksesannya menerapkan Grab Vaccine Center sebagai bentuk konsep pertama di Asia adalah dengan growth mindset, bahwa krisis menjadi peluang untuk perubahan dan kita jangan takut untuk belajar.

Segmen kedua yang tidak kalah seru bertajuk “Menggunakan Kekuatan Budaya dan Kearifan Lokal untuk Akselerasi Kesempatan Kerja dan Kewirausahaan” dihadiri oleh Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie, serta Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak.

Dalam hal menggali potensi budaya di daerah, Tjhai Chui Mie menaruh perhatian untuk menjaga keunikan budaya kota Singkawang. Salah satunya dengan mengemas 3 titik masuk kota Singkawang dengan gaya etnis Tionghoa, Dayak, dan Melayu; pertunjukkan adat rutin tiap tahun secara bergilir dari 17 paguyuban budaya di Singkawang; serta revitalisasi pasar untuk berbelanja sekaligus wisata.

Tjhai Chui Mie berpesan pada generasi muda untuk memanfaatkan keahlian dibidang IT untuk mendapatkan penghasilan. “Anak muda punya kecerdasan lebih dalam bidang IT, kenapa tidak menggunakan IT untuk mendapat penghasilan?” ungkapnya.

Menutup segmen kedua Pra Kongres Seri 1, Emil Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, menyampaikan pola pengembangan SDM dalam birokrasi dan masyarakat umum Jawa Timur. Beliau menyampaikan bahwa dengan realita kondisi pasar yang semakin dinamis dan tidak ada jaminan perusahaan besar pun akan bertahan, karyawan harus memiliki mindset bukan sebatas mencari stabilitas tetapi adaptif memikirkan bagaimana perusahaan dapat bertahan.

“Tidak terkungkung pada sesuatu yang stabil, tidak berhenti belajar. SDM yang harus dicetak adalah Life-long Learner, yang bisa terus menerus belajar, punya hunger akan ilmu dan kompetensi baru, dan independen untuk belajar.” ujar Emil.

Ia juga menambahkan bahwa kompetensi tidak banyak bermanfaat jika kita tidak menggunakan teknologi untuk simplifikasi proses dan decision making-nya.

Rangkaian Pra Kongres ini akan dilanjutkan pada seri kedua pada tanggal 4 September 2021 dengan mengangkat tema ”Budaya Pelayanan di Indonesia, dari Merauke Sampai Weh, Dari Miangas sampai ke Ndana”. Pra Kongres seri kedua akan menghadirkan Prof. Margianti (Rektor Universitas Gunadarma), Ira Puspadewi (Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), serta Bapak H.M. Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat). Rangkaian Road to KNIK II ini juga akan dilanjutkan hingga seri ke 5 sampai dengan 16 Oktober 2021.

Topik-topik yang diangkat dalam rangkaian acara Pra-Kongres ini dan Kongres ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi dan sinergi antara Dunia Industri, Institusi Pendidikan, serta Pemerintah. (rl)

News Feed