oleh

Ketika Pemuda Bicara

Oleh : Ismawati (Aktivis Dakwah Muslimah)

Sudah lama dicari, hukum ditegakkan tak sesuai harapan. “Runcing ke bawah, Tumpul ke atas” mungkin itulah kalimat yang tepat menggambarkan situasi keadilan hukum di negeri ini. Pelaku penyiraman air keras Penyidik Senior KPK, Bapak Novel Baswedan pada April 2017 lalu berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian. Keduanya adalah anggota polisi aktif yakni Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis. Namun hakim memutuskan kedua pelaku penyiraman air keras dihukum 1 tahun penjara. (tribunnews.com)

Keputusan ini mendapat beragam komentar dari sejumlah pihak. Pasalnya, pelaku yang berstatus buron selama 3 tahun tersebut agaknya mendapat sanksi yang tidak sebanding dengan apa yang dialami Novel Baswedan. Ragam komentar pun bermunculan, termasuk anak muda kreatif yang menyuarakan kritikan kepada kasus ini. Gusti Muhammad Abdurrohman Bintang Mahaputra atau yang lebih dikenal dengan nama Bintang Emon adalah seorang komika asal DKI Jakarta yang turut memberikan komentar terkait kejanggalan dalam penanganan kasus air keras ini.

Dengan gayanya yang jenaka, Bintang Emon menyuarakan kritiknya, ia menuturkan rasa herannya atas klaim penyerang Novel yang mengaku tak sengaja menyiram wajahnya dengan air keras. Video yang diunggah di Instagram pribadinya itu telah ditonton lebih dari 10 juta orang dan namanya menjadi trending topic di twitter pada Senin pagi (15/6/2020) ada 34.000 lebih twit yang membahas tentang Bintang Emon. (kompas.com)

Namun, ada saja persoalan di negeri +62 ini. Pendapat kebenaran tetap saja kian diusik. Pasalnya, diduga karena terlalu vokal, dan berani mengemukakan pendapat secara kritis Bintang Emon tersandung masalah baru yakni menajdi target sasaran serangan buzzer dan memfitnah dirinya positif narkoba. Banyak akun-akun anonym di media sosial yang menyerang emon. Meskipun begitu Bintang Emon telah melalui uji narkoba dan menggunggah hasil tes negative ke instagram pribadinya.

Indonesia merupakan negara demokrasi, apa yang telah dilakukan para buzzer tersebut sejatinya telah mencederai makna demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Hanya karena dikritisi lalu membuat tuduhan yang tak berdasar fakta. Bintang Emon merupakan satu dari sekian orang yang sudah “lelah” terhadap hukum yang diterapkan saat ini. Tidak sebanding dengan apa yang sudah dialami korban. Padahal banyak kasus-kasus penyiraman air keras serupa dan dihukum dengan hukum yang pantas.

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kita Nidzomul Islam, pada bab Kepemimpinan berfikir dalam islam beliau menuturkan bahwa “Demokrasi yang dianut mabda kapitalisme berasal dari pandangannya bahwa manusia berhak membuat peraturan (undang-undang)”. Maka wajar saja, dalam sistem kapitalis demokrasi hukum diadopsi dari buatan manusia yang kian membuat keadilan menjadi langka bahkan terkesan anti kritik. Ini membuktikan bahwa sistem saat ini perlu diganti karena sudah tidak mampu menciptakan keamanan dan keadilan yang kondusif.

Didalam islam, ketika kemungkaran tampak dari seorang pemimpin, maka dalam hal ini rakyat wajib mengingkarinya dan melakukan muhasabah kepada penguasa. Muhasabah ini akan membawa kebaikan kepada penguasa itu sendiri di dunia maupun diakhirat. Kedaulatan hukum didalam islam terletak di tangan syara’ (berdasarkan hukum Allah) bukan nurani atau perasaan manusia semata. Maka, Allah yang berhak menetapkan sebuah hukum atas perkara tertentu dan kemudian diterapkan oleh manusia. Ini bisa dilakukan apabila dunia menerapkan sistem pemerintahan islam (Khilafah).

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’Raf : 96)

Apa yang dilakukan Bintang Emon merupakan salah satu semangat dan berupaya memberikan kritik agar adanya perubahan. Sejak dulu sudah muncul suara lantang perubahan seperti Bintang Emon, ideologis seperti Hikma Sanggala dan sebagainya. Benar saja, saat ini kita sedang membutuhkan sosok pemuda yang berani bersuara menyampaikan kebenaran apalagi jika perubahan itu adalah perubahan menyeluruh untuk tegaknya syariat islam dimuka bumi ini. Jadilah pemuda terbaik, pemuda yang berani bersuara, kaya akan tsaqafah islam dan bersyakhsiyyah islam. Semoga pandemi ini semakin mengungkap tabir akan hadirnya perubahan peradaban baru yakni Khilafah. Allahuakbar!

Wallahu a’lam bishowab.

News Feed