oleh

Pasca Covid -19 PTPN VII Gunung Dempo Terancam Bangkrut

PAGARALAM, MS – Perusahaan persero PTPN VII Gunung Dempo Pagaralam yang beralamat jalan laskar Bejo Kasan No 10 kota Pagaralam yang menjadi icon kota Pagaralam dengan luas perkebunan teh seluas ±1300 hektar yang terhampar dibawah kaki Gunung Dempo kota Pagaralam sekarang keberadaan terancam gulung tikar (bangkrut).

Hal ini diketahui setelah beberapa rekan media menyambangi kantor PTPN VII yang disambut oleh Humas PTPN VII Persero gunung Dempo Ari W diruang kerjanya, Senin (28/06/2021).

Menurut Ari selaku Humas PTPN VII Gunung Dempo sejak tahun 2019, Covid-19 melanda Indonesia pemasaran hasil kebun teh PTPN VII mengalami krisis pemasaran karena hasil produksi tidak bisa lagi diekspor keluar negeri.

“Biasanya hasil teh Gunung Dempo diekspor ke negara Taiwan dan Malaysia. Karna terjadi pandemi virus Corona yang melanda dunia sejak tahun 2019 hasil penjualan teh dari perkebunan PTPN VII cuman bisa dipasarkan secara lokal saja dalam negeri seperti kedaerah jawa, Bandung dan sekitarnya,” ujarnya.

Masih menurut Ari, sebelum Covid-19 biasanya PTPN VII bisa memasarkan hasil penjualan sampai dengan ± 210 ton perbulan atau sehari bisa empat atau enam truk yang bisa dipasarkan. “Tapi sejak tahun 2019 sampai sekarang cuman bisa memasarkan 20 ton saja dalam satu bulan seperti kita ketahui teh yang dihasilkan dari Gunung Dempo kualitas nya nomer satu,” ujar Ari.

Menurut dia, saat ini pengiriman untuk hanya dua kali dalam satu bulan, kondisi sekarang berbanding terbalik “terjun bebas” artinya hasil melimpah tapi penjualan pemasaran berkurang drastis untuk itu saat. Ini dikarenakan jumlah produksi tidak seimbang dengan jumlah pemasaran, jadi sangat banyak barang yang menumpuk digudang saat ini.

“Kondisi ini sangat memprihatikan bisa saja melihat fakta yang ada sekarang ini PTPN VII Gunung Dempo yang juga manjadi icon pagaralam ini bisa terancam bangkrut,” ungkap Ari.

Masih menurut Ari untuk menekan hal tersebut langkah langkah yang kita ambil dari PTPN VII Persero Gunung Dempo melakukan pengurangan jam kerja karyawan lepas kontrak yang selama ini tujuh jam, saat ini menjadi enam jam kerja demi mengurangi pengeluaran saat ini. “Karna setiap bulan kita selalu nombok (depisit) pengeluaran, karena tidak sesuai hasil pemasaran saat ini, karna menurut ari kalo harus melakukan pemutusan kontrak kerja kita masih pikir pikir kasihan dengan para pekerja yang ada lagian karna itu bukan ranah kami,” pungkasnya.

Disinggung jumlah pekerja saat ini menurut Ari sekitar 1.200 orang 363 pegawai kontrak dengan upah mengikuti UMR sisa pekerjaan harian lepas dengan honor Rp 40.000 perhari dengan catatan jika bekerja akan dibayarkan kalo tidak tidak diupah.

“Mudah mudahan kondisi krisis akibat Corona ini cepat berlalu dan agar produksi teh PTPN VII Gunung Dempo ini bisa menjadi normal kembali,” harap Ari. (len)

News Feed