You are here
Pemulihan Ekonomi di Sumsel Melalui UMKM DAERAH HEADLINE 

Pemulihan Ekonomi di Sumsel Melalui UMKM

METRO SUMATERA – Pemulihan ekonomi terus gencar dilakukan pemerintah paska pandemi Covid-19 termasuk pemulihan ekonomi di daerah Sumatera Selatan (Sumsel) melalui UMKM. Oleh karena itu, MarkPlus melakukan riset yang bertujuan untuk mengetahui ketertarikan masyarakat terhadap investasi sebagai wirausaha di Sumsel. Riset ini juga bertujuan untuk mengetahui kendala dan langkah yang dihadapi masyarakat dalam berwirausaha serta mengetahui peluang dan ketertarikan usaha di daerah Sumsel.

Survei yang dilakukan kepada 35 responden dengan dominasi 65,7% pria dan usia 40% responden 25 sampai 34 tahun dan 37,1% berusia dibawah 25 tahun ini menunjukan minat masyarakat Sumsel yang cukup tinggi terhadap aktivitas wirauasaha.

“Lebih dari 57% responden mengatakan telah mulai berwirausaha dan lebih dari 14% mulai berwirausaha semenjak pandemi ini,” ujar Senior Business Analyst MarkPlus, Inc. Anggia Aryandita dalam MarkPlus Government Roundtable: Pemulihan Ekonomi di Sumatera Selatan Melalui UMKM pada Senin (16/11) via daring.

Ketertarikan berwirausaha di era pandemi mengalami peningkatan, di mana 28,6% responden berniat berwirausaha dalam waktu dekat dengan bidang usaha makanan & minuman, fashion, retail/eceran, kerajinan, dan tekstil. Selain itu, jenis bidang usaha terkait Covid-19 juga banyak dilirik oleh 51,4% responden. Mereka tertarik untuk memulai berwirausaha dengan jenis usaha jual beli masker, produk herbal/vitamin, sanitizer, alat test rapid mandiri, dan jual beli face shield.

Sebanyak 71,4% responden tertarik sebagai pemilik modal dan pelaku usaha dengan sumber permodalan 68,6% pribadi, 57,1% teman/keluarga dan 28,6% kredit Bank, “Kesedian pelaku usaha mengeluarkan biaya untuk penerapan protokol kesehatan sudah tergolong tinggi di angka 4,23 dengan skala 1 sampai 6, dimana 1 untuk sangat tidak bersedia dan 6 sangat bersedia,” tambah Anggia.

Berwirausaha pada masa pandemi ini memiliki berbagai tantangan terkait distribusi bahan baku atau supplier. Sebesar 55,6% responden mengaku adanya peningkatan harga, 38,9% pengiriman yang memakan waktu lama, 33,3% ketersediaan yang terbatas serta 11,1% kualitas bahan baku dari supplier yang menurun.

Selain itu responden juga merasakan kendala terkait permodalan sebanyak 54,3%, persaingan yang tinggi sebanyak 31,4%, jaringan pemasaran sebanyak 31,4%, dan menurunnya permintaan sebanyak 28,6%. Untuk itu para wirausahawan melakukan beberapa hal sebagai solusi dari kendala-kendala di atas, di antaranya mengajukan permohonan ke bank daerah Sumatera Selatan, mengajukan permohonan ke Bank BUMN, dan mengajukan permohonan ke bank swasta. (nr/red)

Related posts

Leave a Comment