You are here
Turunnya Produksi Jahe di Masa Pandemi timbulkan Kelangkaan dan Kenaikan Harga EDITORIAL HEADLINE 

Turunnya Produksi Jahe di Masa Pandemi timbulkan Kelangkaan dan Kenaikan Harga

Wabah pandemi COVID-19 (Corona) memberikan dampak besar-besaran hampir ke semua negara. Dampak virus corona bukan hanya dirasakan oleh orang-orang yang terpapar virus corona saja, tetapi juga seluruh golongan masyarakat, baik mereka yang memiliki pendapatan rendah, menengah, maupun tinggi.

Pedagang kecil, maupun pengusaha besar mengalami kerugian akibat penurunan penjualan, dikarenakan menurunnya daya beli masyarakat. Masyarakat juga menjadi lebih waswas untuk keluar dari rumah dikarenakan pandemi COVID-19 yang tak kunjung selesai.

Sejak munculnya pandemi COVID-19 di Wuhan, China hingga saat ini belum menemukan vaksin yang teruji klinis mampu melawan virus corona. Para ahli dan peneliti dari berbagai negara masih melakukan penelitian dan uji klinis untuk menemukan vaksin dan obat untuk mengatasi pandemi COVID-19 tersebut. Di tengah-tengah penelitian vaksin COVID-19, banyak masyarakat Indonesia yang mulai mengkonsumsi obat-obatan herbal yang dipercaya dapat mengatasi penyakit COVID-19. Salah satu tumbuhan herbal yang digadang-gadang dapat menyembuhkan COVID-19 adalah tanaman jahe.

Namun faktanya, tanaman jahe tidak dapat menyembuhkan COVID-19.
Meskipun tidak dapat menyembuhkan COVID-19, tanaman jahe ternyata memiliki manfaat sebagai immunomodulator untuk meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuh manusia. Jahe mengandung banyak gizi, diantaranya yaitu kalori, karbohidrat, serat, protein, sodium, besi, potasium, magnesium, fosfor, zeng, folat, vitamin C, vitamin B6, vitamin A, riboflavin dan niacin.

Tak hanya itu, jahe juga mengandung zat-zat aktif dalam minyak atsiri yaitu zingeberin, kamfer, lemonin, borneol, shogaol, gingerol, zingeron, dan zat-zat antioksidan alami lainnya. Zat-zat aktif inilah yang memiliki khasiat untuk meningkatkan imunitas tubuh manusia, serta dapat mencegah dan mengobati berbagai penyakit, seperti gangguan sistem pencernaan, mual saat hamil, ejakulasi dini, mengurangi rasa sakit saat menstruasi, menurunkan kadar gula, dan menurunkan kadar kolestrol jahat.

Badan Pusat Statistik (BPS), mendefinisikan jahe sebagai salah satu tanaman biofarmaka. Tanaman biofarmaka adalah tanaman yang bermanfaat sebagai obat-obatan yang dikonsumsi dari bagian tanaman berupa, daun, buah, dan umbi (rimpang) atau akar. Jahe merupakan tanaman biofarmaka yang memiliki luas panen terluas kedua setelah tanaman kunyit.

Dilansir dari data BPS, pada tahun 2019 luas panen tanaman jahe mencapai 8076,55 hektar. Luas panen tanaman jahe tahun 2019 mengalami penurunan 20,85 persen dari tahun 2018. Penurunan luas panen tersebut juga mempengaruhi produksi tanaman jahe yang menurun 15,92 persen dari tahun 2018, yaitu sebesar 174.380,12 ton.

Meskipun luas panen dan produksi jahe kian menurun, ternyata produktivitas tanaman jahe di Indonesia pada tahun 2019 meningkat dari tahun 2018. Pada tahun 2018, produktivitas tanaman jahe di Indonesia sebesar 203,24 (Ku/Ha) yang artinya, rata-rata komoditi tanaman jahe yang diproduksi di tiap hektar lahan panen adalah sebesar 203,24 kuintal. Sementara pada tahun 2019 terjadi peningkatan produktivitas tanaman jahe menjadi sebesar 215,9 (Ku/Ha).

Tentunya, peningkatan produktivitas tanaman jahe menjadi kabar baik yang patut disyukuri. Namun, adanya permintaan jahe yang melonjak di pasar akibat COVID-19, menyebabkan kebutuhan masyarakat belum dapat terpenuhi oleh petani meskipun sudah ada peningkatan produktivitas. Harga jahe di pasar naik dan jahe sulit ditemui di pasar akibat kelangkaan, sehingga apabila hal ini berlangsung secara terus menerus, akan mendorong terjadinya inflasi.

Dalam rangka mengatasi kelangkaan jahe dan mencegah terjadinya inflasi, pemerintah dapat mengimbangi permintaan yg melunjak dengan memperluas kawasan tanaman rempah dan obat seperti jahe, temulawak dan kunyit di berbagai wilayah. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi jahe di Indonesia, sehingga kebutuhan masyarakat akan tanaman jahe tersebut dapat segera terpenuhi sehingga kelangkaan dapat teratasi serta inflasi dapat dicegah.

Selain itu, petani yang melakukan budidaya tanaman jahe juga dapat meningkatkan produksi tanaman jahe dengan lebih memperhatikan proses produksi. Mulai dari memilih lahan dengan drainase baik, memilih benih dengan kualitas baik, penanaman, pemupukan dan penyiraman yang disesuaikan dengan iklim, pengamatan dan pengendalian OPT menggunakan biopestisida dan pestisida nabati yang diizinkan untuk pertanian organik, hingga proses panen. Dengan lebih memperhatikan proses produksi, diharapkan produksi dan kualitas tanaman jahe dapat meningkat.

Nama Penulis : Prido Putra Sinaga
Prodi/Kampus : DIV – Statistik Sosial dan Kependudukan/Politeknik Statistika STIS

Related posts

Leave a Comment