You are here
Januari, Baru Dua Kasus Gigitan Anjing DAERAH HEADLINE 

Januari, Baru Dua Kasus Gigitan Anjing

LUBUKLINGGAU, MS – Sejauh ini sejak awal Januari hingga dengan kemarin (26/1/2018) sudah terdapat dua kasus gigitan anjing di Lubuklinggau. Hal itu berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) Lubuklinggau.

“Ini baru dua kasus digigit anjing. Hasil labor tidak menunjukan gejala rabies,” kata Kasi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Lubuklinggau, Devid.

Lebih lanjut, pihaknya menangani kasus orang yang digigit anjing dengan diberikan vaksinasi rabies. Itu diberikan secara empat interval. Dan hal tersebut dilakukan tergantung dengan luka gigitan. Kalau biasa, maka lukanya dibersihkan lalu diberi antiseptik.

“Kalau lukanya robek, maka dijahit. Itu perlu, selain dibersihkan, kita beri vaksin rabies,” ungkapnya.

Devid mengungkapkan, gejala orang yang terkena rabies biasanya membuat bersangkutan beronta-ronta, ngamuk, takut dengan cahaya dan air. Dan gejala rabies itu juga harus didukung data dari pihak Dinas Pertanian yang membidangi kesehatan hewan (Keswan) lewat observasi terhadap hewan pembawa rabies (HPR).

Sementara itu Kasi Keswan Dinas Pertanian Lubuklinggau, Hardianto mengungkapkan mengenai penanganan HPR pihaknya sebatas melakukan observasi jika ada laporan kasus gigitan anjing. Namun sejauh ini banyak yang melapor jika ada kasus gigitan anjing.

“Kadang orang ini tidak melapor lagi, dia langsung ke puskesmas. Jadi kami minta data pertriwulan sekali,” bebernya.

Kata Hardianto, di 2018 ini mulai Januari sampai pertengahan telah menyiapkan 1.250 vaksin rabies. Dan petugas keswan rutin setiap bulan melaksanakan vasin terhadap HPR kerumah-rumah. Namun dilapangan, petugasnya dilapangan acapkali menemukan kendala dikarenakan pemilih HPR kurang proaktif untuk vaksin hewan kesayangannya.

“Misal, kita datang kerumah, anjing dilepas. Tidak mungkin kita mau maksinnya. Nah giliran sudah digigit, orang baru ribut,” bebernya.

Hardianto mengungkapkan, baru 60 persen pemilik HPR yang aktif melakukan vaksin ke hewan peliharaannya. Sedangkan sisanya dianggap tidak proaktif. “Hampir 60 persen yang aktif, selebihnya tidak aktif,” pungkasnya. (dhiae)