oleh

Komunikasi Kunci Sukses Membentuk Karakter

Oleh : H. Agus Srimudin, S.Pd.I, M.I.Kom
* Penulis adalah Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi, Dosen Tetap Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Selatan.

Keberhasilan suatu bangsa ditentukan oleh masyaratnya, terutama pada pundak pemuda, siswa dan mahasiswa sebagai generasi penerus. Salah satu upaya mempercepat tersebut ialah dengan membentuk karakter pribadi setiap anak bangsa. Pendidikan karakter (character education) tengah menjadi topik hangat di Indonesia. Hal itu tentu menitikberatkan penanaman pendidikan karakter pada setiap individu warga bangsa, utamanya bagi para peserta didik. Untuk mempercepat implementasi pendidikan karakter, pemerintah Republik Indonesia (RI) menjadikan bahasan khusus dalam kurikulum Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan kegiatan-kegiatan peserta didik.

Konsep pendidikan karakter telah dimulai oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) tahun 2010. Dalam Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025, diungkap bahwa Pendidikan Karakter merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti : disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila; bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; ancaman disintegrasi bangsa: dan melemahnya kemandirian bangsa.( Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) RI. 2011. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kemendiknas, hlm. 5).

Walaupun telah diatur khusus oleh Kemendiknas pada tahun 2010, dengan Pedomanan Pelaksanaan Tahun 2011, namun pendidikan karakter hingga hingga 2018 ini implementasinya belum optimal. Hanya saja, pendidikan karakter diharapkan dapat teraplikasi dengan baik pada tahun 2025. Untuk mempercepat implementasi penanaman pendidikan karakter dilakukan berbagai cara, seperti : diskusi-diskusi, seminar, penelitian-penelitian, focus group discussion (FGD), asrama siswa/mahasiswa (boarding school), lembaga pendidikan luar sekolah, kampus perguruan tinggi; baik perguruan tinggi umum maupun pendidikan tinggi Islam, kegiatan-kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler siswa/mahasiswa di sekolah-sekolah/kampus, pondok pesantren, pembahasan di media-media mainstream baik cetak, elektronik, online, konvergensi, maupun media terbarukan. Bahkan, lebih gencar lagi pembahasan bertema pendidikan karakter di ranah penelitian ilmiah, seperti jurnal, tesis, dan disertasi.

Untuk mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter (character building), sebagaimana diamanatkan Pancasila dan UUD 1945 serta mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini, maka Pemerintah menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembagunan nasional. Semangat itu secara implisit ditegaskan dalam Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025, dimana Pendidikan Karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu “Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila”. (Ibid, hal.8)

Pendidikan karakter dipandang sangat penting, sehingga dijadikan visi pendidikan nasional. Sebab, masyarakat berkarakter akan menjadikan bangsa Indonesia lebih berwibawa dan bermartabat di mata dunia. Apa wujud visi pembangunan nasional tersebut? Tentu saja terwujudnya masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Masyarakat berakhlak, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab, juga diatur dalam tatanan ajaran Islam. Untuk mewujudkan percepatan implementasi pendidikan karakter dalam konsep Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), perlu diwujudkan nilai-nilai pendidikan karakter berdasarkan identifikasi masing-masing nilai.

Dalam rangka lebih mempercepat pelaksanaan pendidikan karakter dalam satuan pendidikan, Kemendiknas RI melalui Pusat Kurikulum, Pengembangan, dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah Tahun 2009: 9-10, telah teridentifikasi 18 nilai pendidikan karakter; yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu : Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Cinta Tanah Air, Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, dan Tanggung Jawab.

Kendati telah diidentifikasi 18 nilai pendidikan karakter, namun sekolah dapat membuat skala prioritas dalam penanaman nilai-nilai karakter di sekolah. Begitu pula dengan model pengembangan dan implementasinya, sekolah diberi ruang kewenangan. Pilihan-pilihan dalam pengembangan penanaman nilai-nilai pendidikan karakter sangat tergantung dengan budaya sekolah (school culture), iklim sekolah (school climate), dan kebijakan stakeholder (para pemangku kepentingan sekolah).

Kenapa penanaman nilai-nilai karakter sangat penting? Sebagaimana visi pembangunan nasional, terwujudnya masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila, menurut Thomas Lickona, pada kenyataannya pendidikan moral ternyata sudah seumur pendidikan itu sendiri. Berdasarkan penelitian sejarah dari seluruh negara yang ada di dunia ini, pada dasarnya pendidikan memiliki dua tujuan, yaitu membimbing para generasi muda untuk menjadi cerdas dan memiliki perilaku berbudi.( Thomas Lickona. Cetakan ke-3, 2013. Educating for Character, Mendidik Untuk Membentuk Karakter—Bagaimana Sekolah Dapat Mengajarkan Sikap Hormat dan Tanggung Jawab. Terj. Juma Abdu Wamaungo. Jakarta: Bumi Aksara, hlm. 7)
Menurut Lickona, kata “cerdas” dan “baik” bukan merupakan dua kata yang sama makna. Lickona mencontohkan, beberapa waktu lalu, pada sebuah komunitas kecil di pinggir Kota New York, Amerika Serikat, ada empat orang remaja, terdiri dari 3 wanita dan seorang pria memporak-porandakan sekolah mereka pada malam hari. Mereka menghabiskan berjeriken bensin sehingga mereka membakar sekolah dengan kerugian sekitar 500 ribu dolar. Masih untung situasi tersebut dapat diatasi lebih dini, bila tidak kerugian akan lebih besar. Diungkap bahwa anggota tertua dari empat sekawan tersebut merupakan siswa terbaik dari sekolahnya, dan tiga lainnya telah mendapat pujian dari media sekolah sebagai siswa teladan. Motif mereka membakar sekolahnya karena tidak diikutkan dalam mata pelajaran Bahasa Perancis, mereka juga mendapat hukuman atas hal tersebut. Dari contoh kisah tersebut, tergambar sangat jelas bahwa “kecerdasan” berbeda dengan “perilaku baik”. Dengan demikian, pendidikan moral—sebagai bagian penting dari pendidikan karakter—perlu disajikan khusus dan secara sengaja dijadikan bagian utama dari pendidikan sekolah.

Untuk mempercepat pendidikan karakter dan penyampaian pesan lebih cepat, diperlukan gaya pendidikan dengan menggunakan Ilmu Komunikasi. Sebab, Ilmu Komunikasi merupakan kunci sukses untuk mempercepat pendidikan karakter. Komunikasi adalah sebuah bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Secara etimologis, kata komunikasi berasal dari bahasa latin “communicare” yang artinya “menyampaikan”. Menurut asal katanya tersebut, arti komunikasi adalah proses penyampaian makna dari satu entitas atau kelompok ke kelompok lainnya melalui penggunaan tanda, simbol, dan aturan semiotika yang dipahami bersama. Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa pengertian komunikasi adalah suatu aktivitas penyampaian informasi, baik itu pesan, ide, dan gagasan, dari satu pihak ke pihak lainnya yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. (https://www.merdeka.com/jatim/komunikasi-adalah-proses-penyampaian-makna-pada-orang-lain-ketahui-tujuan-dan-fungsi-kln, 10 September 2020.)

Dari berbagai permasalahan gaya komunikasi dalam penyampaian pesan, Komunikasi mempunyai peran sangat penting. Bahkan Komunikasi bisa disebut sebagai kunci sukses dalam percepatan pembentukan karakter. Sebab, Komunikasi dapat memahami audiens yang menjadi sasaran atau komunikan. Sehingga harapan percepatan dalam pembentukan karakter akan lebih cepat terealisasi dengan menggunakan kecakapan berkomunikasi.(*)

News Feed