You are here
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Lampung Isi Kuliah Umum di UBL HEADLINE NASIONAL 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Lampung Isi Kuliah Umum di UBL

BANDAR LAMPUNG, MS – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Arief Hartawan SE MA. Mengisi kuliah umum dalam rangka Orientasi dan Matrikulasi Mahasiswa Baru Program Pascasarjana Universitas Bandar Lampung di Auditorium, Kampus Dra Hj Sri Hayati Barusman UBL, Sabtu (16/9/2017).

Dr Ir M Yusuf S Barusman MBA selaku Rektor UBL menyambut kedatangan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung untuk mengisi kuliah umum di UBL dengan tema “Tantangan Ekonomi Indonesia Era VUCA,” dimana VUCA adalah akronim dari Volatility, Uncertainty, Compelexity, dan Ambiguity.

“Saya bersyukur atas kehadiran narasumber karena topik dibicarakan sangat menarik,” ungkap Yusuf. Yusuf Barusman mengatakan bahwa ada satu revolusi besar yang sedang terjadi di dunia. “Sebagian besar dari kita belum sadar tentang revolusi di berbagai bidang seperti industri, teknologi bahkan internet,” tambah Yusuf. Ia menjelaskan semua transaksi kini semakin mudah. Masyarakat kini mulai bertransaksi tanpa harus ke kantor-kantor cabang bank. “Mungkin kita ke depan akan masuk ke jaman full digital ekonomi, dan itu akan berdampak sangat banyak,” ungkap Yusuf.

Lewat kuliah umum ini, Rektor UBL mengajak para mahasiswa untuk proaktif mengantisipasi dan mempersiapkan diri untuk ikut dalam revolusi-revolusi itu. “Bukan menjadi korban dari revolusi,” ungkapnya.

Sementara, Arief Hartawan selaku narasumber menjelaskan apa itu arti dari masing-masing kata akronim dari VUCA. Volatily adalah dinamika perubahan yang sangat cepat, sementara itu Uncertainty adalah kurangnya prediktabilitas terhadap isu dan peristiwa yang terjadi saat ini maupun akan datang. Complexity adalah adanya gangguan dan kekacauan yang mengelilingi setiap organisasi. Sedangkan Ambiguity adalah beban berat realitas dan makna yang berbaur dari berbagi kondisi yang ada saat ini.

Selain itu Arief Hartawan mengatakan bahwa Ekonomi Indonesia selalu berupaya untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang besar. “Upaya tersebut yakni bagaimana mengupayakan pertumbuhan produk domestik bruto, mencapai tingkat pendapatan per kapita tinggi, dan bagaimana mencapai suatu institusi pendapatan nasional yang semakin baik,” ungkap Arief. Ia menjelaskan dengan Indonesia yang struktur ekonominya sedang berusaha untuk merubah struktur ekonomi tradisional menjadi modern. Ia menyatakan bahwa hal itu dapat dilihat dari peningkatan sektor impor dan investasi yang cukup signifikan.

Arief mengatakan bahwa pendapatan per kapita 2016 naik menjadi 3.500 US dolar, namun masih jauh dari standar Negara maju yang mencapai 12.000 US Dolar. Ia juga menambahkan kondisi pemerataan pendapatan di rasio 2017 membaik, namun masih jauh daripada harapan. “Pengangguran dan kemiskinan juga telah terjadi penurunan di tahun ini,” tuturnya.

Tak hanya itu, ia juga menjelaskan struktur ekonomi di Lampung masih bertumpu pada sektor pertanian, industri pengelolaan dan perdagangan. Lewat kuliah ini para peserta bersama dengan narasumber saling berdiskusi membicarakan bagaimana kondisi perekonomian Indonesia sesungguhnya dan prospeknya ke depan. (sal/ril)

Related posts

Leave a Comment